And the Story Goes........

Aku ingin menuliskan rindu di tanganmu,

Kusaksikan ada merah yang memadam di wajahmu, begitu juga aku. Aku masih teringat saat kita memainkan peran romansa melankolis pada belantara kabut pagi, engkau slalu menungguku bukan? bahkan sebelum mentari sempat membuka mata. Ah, atau aku yang slalu terlambat? Tapi yang pasti, aku slalu menyukai senyuman pagimu.

Engkau slalu ada untukku, bahkan ketika kita terpisah jarak dan waktu. Andai nafas ini membentuk wujudnya, gunung dan pantai menggetarkan dimensi yang diluar nalar, saat itu kita bukan manusia biasa. Engkau merajut kisah berwarna biru sedang aku mewarnainya dengan merah jambu, serupa lagu yang sering engkau nyanyikan pada malam – malamku.

Telapak tangan ini mulai membeku, mungkin engkau dapat melihatnya melalui tatap mataku. Aku membuat benteng dari batu, sebagaimana kita biasa menggungu untuk saling “mengganggu”. Lucu bukan, saat dulu benteng ini adalah simbol yang menyatukan kita, sekarang menjadi pembeda tentang apa yang pernah ada.

Kita memang sempat bersama, merangkul tangisan kecil bocah yang bermain ayunan saat senja mulai karam. Kita mengucap cinta saat perjumpaan hanya sekadar mimpi, dan engkau mengucap rindu saat aku mulai terjaga.

Aku ingin menuliskan rindu di tanganmu 
Aku akan baik-baik saja, seperti juga dirimu bukan?

--



[Selengkapnya] - And the Story Goes........

Kembali Pulang, Haruskah?

kamu tahu, terkadang aku masih ingin menulis
tentang peraduan mentari
atau tentang angin di antara ilalang
juga kamu

aku masih disini
mataku sibuk mencari cara untuk kembali
ke ruang waktu yang tak berujung
atau kesudut bibir merah jambumu

lalu, dimanakah senyuman itu?
apakah ia menguap lenyap bersama kabut?
atau membusuk seperti daun yang berguguran?
hujan kali ini jatuh untukmu

aneh rasanya jika yang ada hanyalah sepotong hujan
saat nafas - nafas ini segera pulang
serupa pinta, aku berkata
"bantu aku pergi, dari sepi"


--



[Selengkapnya] - Kembali Pulang, Haruskah?

Tentang Rindu Paling Baka II

Untukmu yang membaca di balik jendela,

Mungkin aku sedang bingung, sedari tadi memandangi bingkai ingatan tentang kita. Saat itu, kita tenggelam dalam buncah tawa yang entah tentang apa. Tentang daun – daun yang gugur, atau serupa kisah musim semi yang berubah menjadi rinai gerimis.

Angin sejenak terdiam, ketika suara – suara sendok dan garpu beradu, denting piring dan riak air pada beberapa gelas kusam. Di depannya, sorot kilatan lampu mengabadikan wajah penuh suka. Saat itu semuanya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Namun esok hari atau beratus hari setelahnya, kita akan sama - sama berguman tentang makna pada setiap senyumnya.

Setelahnya hujan menolak reda, sekeranjang raut muka menengadah merapal mantra. Kita serupa dua bola mata, memandang tirai hujan dengan rasa yang sama. Kusempatkan mencuri ruang jemarimu dan menyandarkan tanganmu melingkari leherku. Kita sama – sama tersenyum, memunggungi waktu yang mulai cemburu.


Untukmu yang membaca di balik jendela,

Engkau boleh mengambil sebagian tawaku, atau hanya saling meminjam penghapus karat dari balik saku celana masing-masing. Ada baiknya jika secangkir kopi paling hangat kita nikmati bersama. Kita tertawakan awan mendung hari kemarin, sambil memandangi sesisa gerimis pada sudut mata.

Aku tahu ini hanya sejenak, malam akan memaksa kita sama-sama kembali menuju mimpi.  Ah, kita tunggu saja, apakah cerita ini akan berulang? Atau berhenti seperti yang digambarkan malam pada hari sebelumnya.

Rindu, do’a dan hujan, ketiganya saling menyama. Belum juga reda.

--









https://soundcloud.com/cahya_purnama/tentang-rindu-paling-baka-ii

[Selengkapnya] - Tentang Rindu Paling Baka II

Do'a di Balik Jendela




Dy,
laut disini berwarna biru
ombak dan pantai saling mencumbu
basahi hampar pasir-pasir yang memutih
melukis lengkung sesisa buih
serupa bibir seorang kekasih

Dy,
di celah tebing paling tinggi
seekor burung dan anaknya saling berbagi
paruhnya mengangguk lagi dan lagi
belajar kepakan sayap, demi esok hari
kemudian pergi, kemudian kembali

Dy,
langit sore ini segera luluh
nelayan menggulung kail, jala dan sauh
bergegas kembali untuk berlabuh
sebagian mengutuk, sebagian lagi bersimpuh peluh
atas do’a paling ampuh

Dy,
malam segera datang
hitam meruang di antara kerlip gemintang
juga remang rembulan
indah bukan?

--
Ruang jeda, 02 Mei 2014

Karya : Furi Cahya Purnama



 







[Selengkapnya] - Do'a di Balik Jendela

Simfoni Pagi

Kepada pagi, kutitipkan sepenggal romansa
Tentang bintang, juga beribu keindahan malam
Seraya menyesapi aroma bumi dan belajar bahasa hujan
Sebuah simfoni yang membuat aku mengerti
: Kita tidak pernah sendiri



Karya : Furi Cahya Purnama

[Selengkapnya] - Simfoni Pagi

Tentang Rindu Paling Baka





Sebelum senja beranjak, kita sepakat untuk berjarak satu kilan. Berpura-pura tak peduli namun sesekali saja menoleh ke arah belakang. Aku dan kamu sibuk bergumam, sambil merobek-robek kertas berisi tulisan tentang rindu paling baka.

Pada sudut ruang terdapat sebuah gambar usang, lusuh tergeletak bertabur kotoran waktu. Gambar tentang sepasang mata, mata bulat yang menatap angkasa disertai kulai rambut nakal tertiup angin, juga sebuah senyuman.

Kita masih berdiri bergandeng tangan waktu itu, menatap raut tatanan ilalang, menyesapi aromanya, sambil saling tersenyum tanpa tertawa. Di atasnya, sepasang merpati terbang dalam kedamaian, mencari helai jerami serupa benang putih pada pendar jemari.

Aku tidak berani menyentuhnya, atau sekadar untuk menegakkan sandarannya. Hanya sesekali mencuri waktu untuk memandangnya, menikmati indahnya, diiringi desir angin yang melewati rongga jendela.

Sementara waktu merambat maju, sepasang mata, sajak - sajak tentang hujan. Juga kelopak layu bunga mawar yang basah oleh tempias gerimis, menandai waktu tepat sebelum malam benar - benar sempurna.

Saat malam menjelang, langit berwujud muram. Kita masih duduk hingga hampir memagi, memandangi pohon lapuk dengan reranting kering terkulai dipermainkan angin. “Ya, seperti mimpi-mimpiku“ katamu, “kita” kataku. 

Ia tetap berada di sana, semisal  cerita ini enggan berlalu, kutitipkan setitik gerimis di atas sebuah do’a.

Bahagia ?


--
Ruang Jeda, 03 April
Karya : Furi Cahya Purnama


 
 





[Selengkapnya] - Tentang Rindu Paling Baka

Sajak Sandal Jepit


satu orang teriak syahdu
satu orang teriak sendu
satu orang teriak merdu
serempak teriak “AKU”

semua pakai sandal jepit
supaya bisa mengimpit
meski sebelumnya mengambang di parit
bikin yang lihat mengernyit, sambil berjinjit

putih, hitam, merah, kuning, hijau, biru
akhirnya jadi abu-abu
terjepit celah sempit
menjerit-jerit

untukku, untukmu, atau untuk-Mu?

--
Ruang Jeda, 28 Maret 2014
Karya : Furi Cahya Purnama

 

[Selengkapnya] - Sajak Sandal Jepit

Rerupa Niskala

duduk sendiri di taman kota, menggetil sepucuk bunga
tercium harum sesaat, kemudian pudar
aku tersentak, angin mencurinya hanya sekejap

suara - suara jengah, kelakar kesenyapan
lelah menerjemahkan cerita malam, cinta dan kepalsuan
yang tertuang dan berulang, ketakutan atau keberanian?

satu jam lewat tengah malam, berteman nyanyian angin
nokturnal hadir, penghiburan atau mungkin pengasingan
berjalan menyusuri lorong seberang, menjelma rerupa niskala

di tengahnya terdapat sepetak rumput
separuh berwarna cokelat, sisanya (masih) berwarna hijau
seperti ingatan anak kecil dalam catatan sejarah

bola mata mencari ruang, pada kelangkang langit yang semakin karam dalam hitam


--
Ruang Jeda, 25 Maret
Karya : Furi Cahya Purnama




[Selengkapnya] - Rerupa Niskala

Lipatan Hari

diam-diam kutulis beberapa bait mimpi
kulipat perlahan dan kubuat pesawat kertas
kutitipkan pada sejuk angin dini hari
terbang bersama kekupu diiringi aroma embun
juga gumpalan kabut
sebagian putih, sebagian lagi kelabu

ketika senja tiba, ia kembali
melebur lelah guratan resah, menjadi serupa kisah
pada tubuh suci seorang bidadari
tersusun sempurna
pada dinding yang mungkin kita hindari

menjelang redup remang sang malam
ia menjadi sebuah romansa
bercerita tentang rerintik cahaya, juga kita
mengeja sebaris aksara do'a
atas cinta, dan keindahan beribu bunga


Ruang Jeda, 24 Oktober 
Karya : Furi Cahya Purnama

 



[Selengkapnya] - Lipatan Hari

Elegi : Feel The Rain

barangkali gerimis ini air mataku
membawa gigil hening malam semakin kuyup
menakar satu per satu detik yang terbuang
semakin tenggelam dalam diam


mungkin ini sesuatu, atau bukan apa-apa
yang enggan dan tak ingin di jelaskan oleh kata
dinding-dinding pun menepi, hingga pagi mengabut lagi
sepi, mengabadi di sini

jauh tertinggal pada bentang waktu
terdapat melankolia samar di ujung bibir
menahan buncah tadah hujan
pada ruang sunyi yang ku ciptakan sendiri

hari ini, kenangan membenamkan tubuhnya
di dada sebelah kiri yang pernah terluka
dan dengan perlahan kukatakan

"hujan, aku telah menerimamu dalam segala jelma"




Ruang Jeda & Beranda Hening, 07 Maret
Karya : Furi Cahya Purnama & Ria Aprillia







[Selengkapnya] - Elegi : Feel The Rain

Fragmen Pagi

Suatu pagi, ketika fajar menyentuh semesta
Ada sinar jingga berbalut tulus
Turun dalam wujud rerupa dewi pelangi
Membawa tujuh warna kesejukan kepada dunia

Luluhlah aku dalam kehangatan
Tempias mimpi sudah tak kuasa menahan rindu
Tersadar, oleh lembut sentuhan surgawi yang begitu lekat
Membuai ruh yang terlelap oleh sesisa malam

Lalu sesekali kubisikan sebuah tanya secara perlahan
“Adakah aku pada jendela hatimu?”
Engkau pun tersipu, setipis embun yang beranjak lalu
Hembusanmu menyibak tanya
Tepat diantara kedua mataku

: Selamat datang pagiku 
Karya : Furi Cahya Purnama

[Selengkapnya] - Fragmen Pagi

Sebingkai Keindahan

Pada pagi terdapat semerbak sejuk tetes embun
Pada terik siang hadir teduh dedaun rindang
Pada senja bertahta jingga yang mempesona
Pada malam berhias kerlip gemintang
Kepadanya
: segalanya

Bersama sebingkai senyuman, kulipat kisah bahagia
Dalam rengkuhnya, aku membisu dan mencumbu
Harum tubuh serupa alunan lagu; merdu
sebagai pengantar pecahan keping rerindu






Karya : Furi Cahya Purnama




[Selengkapnya] - Sebingkai Keindahan

Melodi Seruling Rindu

Kemarin, irama berujar tentang sajak ruang kosong
Pada pena yang kucuri dari pucuk pinus belantara kabut
Engkau hadir, dan menuliskan nama
Tepat diatas uluh hati
Hingga darah dari nadiku
Melukiskan senyumu

Lalu, sebatang bambu menunjuk sang bayu
jemarinya menyusur notasi retakan hari
Menari antara lingkar nada merdu
Menjadi simfoni sebuah melodi
: Kidung kinanti

Syair asmara tak henti mengetuk ufuk nurani
Pun waktu bersenggama dalam sebuah lagu
Di timur cakrawala, meretas arti sebuah janji
Memancarkan sinar pada terbit mentari
Kita bertemu, membawa sepasang rindu

--
Ruang Jeda, 27 Mei
Karya : Furi Cahya Purnama

[Selengkapnya] - Melodi Seruling Rindu

Ingatan Taman Hati

Mengingatmu membuatku duduk pada taman keindahan
Sesisa sudut bayang sepasang mata
Pada ungu lavender atau putih kenanga
Mewarnai bening derai embun
Semerbak sejuk dari balik hangat pelukan mentari

Tarian kupu mengantar serbuk merah jambu
Yang diatasnya terdapat putik rindu
Sedang menghapus jejak kelabu
Detak waktu mengalun nada-nada merdu
Mengisi melodi hening lelap terbuai syahdu

Batas ruang menjadi sebuah alasan
Bagi kerinduan untuk singgah pada hari
Ketika engkau terhalang waktu
Juga mimpi nyataku

--
Ruang Jeda, 25 Mei



Karya : Furi Cahya Purnama

[Selengkapnya] - Ingatan Taman Hati

Selamat Datang Adikku

: Ditta Larassati

Saat ini mungkin sebuah euforia untukmu, jubah hitam berhias emas, bunga-bunga dirangkai indah dalam balutan pita merah jambu, sebuah tanda kebesaran tingkatan akademis juga sebagai tanda luluhnya segala buku yang telah digeluti selama beberapa tahun. Mungkin benar jika ini adalah sebuah senja dari siangsiang mu yang kemarin engkau habiskan dengan mereguk intisari ilmu yang disajikan hari demi hari. Namun ingatlah, bahwa belajar tidak hanya berhenti sampai disini, mungkin disini adalah akhir dari sebuah akademi mini, dan diluar sana menanti akademi semesta yang sesungguhnya tanpa mengenal formalitas nilai.

Selamat datang di gerbang semesta, selamat datang di hari dimana tugas yang ada adalah tugas yang tidak bisa ditinggalkan, kehidupan yang sesungguhnya sedikit berbeda sayang,  sekali engkau berpaling darimya maka ia akan segera meninggalkanmu. Di hari esok engkau akan melihat bahwa nilai yang sesungguhnya bukanlah sebuah angka atau beberapa huruf alphabet yang berjejer, nilai adalah bagaimana cara dirimu dalam memaknai sebuah hari, nilai tersebut akan menentukan dimana engkau akan berada, nilai juga yang akan menentukan warna apa yang akan engkau tuangkan dalam pelangi.

Kembang api yang yang memancarkan keindahan aneka warna dan menghias hitamnya malam jangan engkau maknai secara berlebihan, karena sesaat setelah gemerlapnya hilang semua akan kembali berpaling muka darinya, kecuali aku tentunya dan sebaris orang yang berada bersamaku yang selalu menyayangimu. Sekali lagi kuucapkan selamat, ini juga meruapakan bukti dari kerja kerasmu dalam membuktikan kepada dunia bahwa engkau mampu, semoga di dunia yang sesungguhnya dapat engkau lalui dengan sama gemilangnya seperti prestasi akademismu, atau harapanku tentunya engkau akan lebih bersinar lagi.

Selamat datang adikku.

Serupa mawar putih yang merekah di taman keabadian, semilir keindahan, keharuman, juga doa yang terselip diantara kelopaknya.


Karya : Furi Cahya Purnama

[Selengkapnya] - Selamat Datang Adikku